Pages

Jumat, 22 Januari 2016

Puisi #2

0 komentar
Salahku yang biarkan diriku sebodoh ini.
Mencintaimu walau kutau kau tlah ada yang memiliki.
Tak bisa kuabaikan tawa dan hangat genggam tanganmu.
Sosok yang tak kutemukan dari siapapun.

Sungguh aku tak berharap lebih untuk bisa memilikimu,
Namun kini rasa ini semakin menikamku.
Setiap kali kuingat kau bersamanya.
Dan, apa yang harus kulakukan?
Pergi dari hidupmu atau aku harus terluka di sini...


t. @dewisakuragi

Senin, 18 Januari 2016

Mahoganny Hills - Tia Widiana

0 komentar
Judul : Mahoganny Hills
Penulis : Tia Widiana
Penerbit : Gramedia
ISBN : 978-979-22-9584-9
Halaman : 339 hlm
Status : Pinjam Teman
Rating : JJJ





Sinopsis :

Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasi yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan – semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab : Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?


            Setelah menikah, Jagad membawa istrinya ke pelosok sukabumi, ke sebuah rumah yang diberi nama Mahoganny Hills. Bukan bahagia yang menunggu mereka berdua, karena Jagad dan Paras tidak menikah karena cinta, melainkan karena perjodohan. Hari-hari awal pernikahan mereka, Paras mencoba sabar menghadapi Jagad yang cenderung antipati dan membencinya. Karena bagia Jagad, pernikahannya dengan Paras bukan karena keinginannya.

            Jagad terus-terusan menyiksa Paras dengan ucapan dan sikapnya dengan harapan Paras akan meminta cerai darinya dan dia bisa menikahi wanita yang dicintainya, Nadia. Bahkan sikap Jagad yang sangat keterlaluan itu juga dapat dukungan dari Nadia. *langsung asah golok*

            Namun lambat laun Jagad menyadari perasaannya pada Nadia bukanlah cinta, melainkan hanya obsesi belaka. Belum sempat Jagad menyadari perasaannya pada Paras sebuah insiden mengerikan *buat semua wanita* terjadi, semua berawal dari kedatangan mantan pacar Paras. Jagad lepas kendali dan memaksa Paras berhubungan dengannya. Yah, meski sebenarnya mereka sudah halal. Tapi tetap saja itu sebuah pemaksaan. Jagad yang mulai bersikap baik pada Paras malah ditanggapi Paras dengan dingin. Hingga suatu pagi Paras kecelakaan dalam usahanya kabur dari Mahoganny Hills.

            Novel ini hasil pinjaman teman. Yeah, Tiara. Aaa, I love youuu. Thanks sudah meminjamiku novel-novel ini. Novel ini dilabeli juara 1 sayembara menulis Amore, salah satu lini milik Gramedia. Aku suka gaya bahasa dan pengaturan plotnya. Deskripsi suasana di sekitar Mahoganny hills dan Sukabumi juga keren. Ah, If I could have one. Hanya saja pemilihan ‘amnesia’ untuk jadi bagian dari cerita rasanya kurang pas. Duh, klise sekali kan... dan jujur bikin aku agak males nerusinnya.
            Tapi aku nggak akan kapok baca novel Mbak Tia ke depannya. J


Best Quote :
“Setelah menikah dengamu, cinta jadi tidak terlalu rumit. Denganmu, cinta menjadi sangat sederhana. Cinta adalah memberi, menerima, dan memaafkan. Aku bukan malaikat, aku lelaki brengsek yang pernah menyia-nyiakanmu. Tapi aku tahu aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kau terlalu baik untukku. Aku akan selalu bersamamu, dan terus belajar mencintaimu, agar aku bisa sebaik kau.” (hlm. 329)

             

Jumat, 08 Januari 2016

Morning Brew - Nina Addison

0 komentar
Judul : Morning Brew
Penulis : Nina Addison
Penerbit : Gramedia 
Status : Pinjam Teman
Rate : ☺☺☺☺





Sinopsis :

Seandainya kita bisa tahu dia memang ditakdirkan untuk kita. Seandainya ada jaminan cinta yang kita punya tidak akan membuat kita pecah berkeping-keping. Seandainya soal jodoh ada di tangan kita. Sayangnya, dalam hidup tak ada yang pasti.

Soal cinta apalagi.
Karenanya ketika boy, pacar tujuh tahunnya Reney, tiba-tiba bilang putus, Reney seperti dibuang ke lubang tanpa dasar dan tidak yakin bisa keluar lagi dari kegelapan di dalamnya. Tapi apa iya?

Yuk, mampir ke dunia Morning Brew. Reney, Danny, dan Ivana dengan senang hati siap menemani dengan cerita dan segelas kopi hangat plus semangkuk soup of the day yang akan bikin kamu ketagihan!

Patah Hati dan Move On.

            Boy, pacar ‘hampir’ delapan tahunnya Reney, tiba-tiba memutuskan hubungan mereka karena Boy mendapatkan beasiswa ke London. Padahal, Reney pikir, Boy akan melamarnya. Patah hati membuat Reney mengurung diri di kamar kostnya selama berhari-hari. Kedatangan dua sahabatnya lah, Danny dan Ivana, yang mampu membuat Reney bangkit kembali dan mulai masuk kerja.

Yup, Morning Brew, tempat Reney, Ivana dan Danny bekerja. Sebuah cafe mungil yang menyajikan menu spesial ‘soup of the day’. Di sana juga, Ivana dan Danny memberi usul untuk mencari cowok baru untuk melupakan Boy. Bagaimana bisa Reney melakukan itu, dia sudah terlalu terbiasa dengan Boy. Tapi tiga pria datang silih berganti di hidup Reney. Mampukah Reney Move-on??

Buku ini hasil pinjaman Tiara (thanks, ra). Dulu aku masih ingat Tiara pernah merekomendasikan buku ini di Goodreads dan akhirnya aku bisa baca juga. Sebenarnya agak skeptis, sih sama buku ini. mungkin karena ini buku debut, ya. tapi, hei, setelah satu dua halaman, aku kayaknya nggak bisa berhenti membuka halaman-halaman selanjutnya. Gaya bahasanya enak, mengalir. Ikutan sedih dan patah hati pas hari-hari pertama Reney putus dengan Boy. 

Plotnya nggak terlalu lamban dan nggak terlalu cepat. Karakter Danny dan Ivana juga semakin membuat buku ini meriah(kecup untuk Danny :D). Persahabatan mereka di Morning Brew benar-benar anugrah. Ivana dan Danny menarik Reney yang sedang berkubang di dalam patah hatinya, mengusulkan berbagai macam hal termasuk memilih salah satu pengunjung Morning Brew untuk dipacari!
Morning Brew. Cara Nina mendeskripsikan Morning Brew pun sangat memuaskan, aku seperti merasa sedang ada di salah satu sofa di Morning Brew, menunggu Soup of the day di sajikan. J


Best quote

“Ibarat tulisan, Ren, semua kalimat yang lo tulis harus ada titiknya untuk bisa lo lanjutkan ke kalimat berikutnya. Buat gue patah hati juga seperti itu. selesaikan dengan titik. Ucapkan selamat tinggal dari hati lalu berikan maaf pada dia dan pada diri lo sendiri. Pada akhirnya, rasa ikhlas itu akan datang dengan sendirinya seiring waktu.” (morning brew, p214)


Kamis, 07 Januari 2016

Puisi #1

0 komentar
Aku ingin kau berlalu. 
Meski aku juga ingin kau tetap tinggal, 
padahal itu tak mungkin.
Aku ingin kau menghilang. 
Sementara kenyataannya, 
kau ada dalam setiap jejak dan nafasku. 
Menghantuiku bagai hantu.

Aku ingin kau berbahagia. 
Dengan begitu aku bisa menyadari, 
tidak ada tempat untukku membahagiakanmu.


Aku ingin berdamai dengan kenanganmu. 
Tidak harus sekarang, aku tahu,
 semua proses membutuhkan waktu. 
Satu bulan atau mungkin sepuluh tahun.
Tapi aku benar-benar menginginkanmu.

-- t. @dewisakuragi

Rabu, 06 Januari 2016

Sejenis Post Pembuka

0 komentar
Aku menulis catatan ini pada 1 januari 2016

            Di tengah riuhnya manusia merayakan pergantian tahun. Aku berusaha lebih kalem, tidak terlalu larut dalam pesta. Menepi sedikit, memikirkan kembali apa yang terjadi pada tahun 2015 kemarin. Apa ada kemajuan atau malah mundur? Baiklah, jujur, tahun 2015 kemarin aku tidak merasakan kemajuan yang major dalam hidup. Yah, aku masih berkutat dengan masalah yang sama. Belum bisa Move-on, target tulisan belum terpenuhi, ekonomi masih labil dan lain sebagainya. Meski begitu ada hal yang aku syukuri, salah satunya diberi kesehatan dan stamina wonderwoman. J
            Mari kita tutup tahun 2015 kemarin dan kita mulai 2016 dengan optimis dan semangat. Semoga target, cita-cita dan hal-hal yang aku inginkan bisa tercapai dan selalu bahagia.
Sehat
            Tentu hanya bisa dicapai kalau kita menjaga diri kita dengan olahraga rutin, memakan makanan yang sehat dan berpikiran positif. Untuk olahraga, aku akan mulai menyeriusi lari. Kenapa? mungkin karena pengaruh Haruki Murakami dengan buku What I Talk About When I Talk About Running. Hahaha. Shallow, ya? tapi nggak juga, sih. karena setelah mendaftar beberapa olahraga yang mungkin bisa aku lakukan, Lari adalah pilihan terbaik. Tanpa budget. Modal sepatu doang. Aku juga mau coba pilates. Lalu, untuk masalah makanan, aku berpikir untuk lebih banyak makanan yang sehat, buah-buahan, sayur, tanpa mie instan tanpa junk food yang efek jangka panjangnya akan sangat buruk. Berpikiran positif. Aku terus berusaha untuk mengisi pikiran dan hati dengan sesuatu yang positif, berusaha mengatur emosiku agar stabil, terus bahagia dan senyum dalam keadaan apapun. Baik susah maupun senang.

Ekonomi.
            Cari penghasilan tambahan. Sungguh, aku bersyukur sekali dengan pekerjaanku saat ini. Meski jujur, ini bukan pekerjaan yang aku impikan, which is writer or victoria secret’s model. Tapi kita butuh uang untuk berjalan dimuka bumi ini, kan?*gosh, bahasaku*  tapi untuk ukuran lulusan sekolah menengah atas, pekerjaan ini sudah sangat memuaskan. Tapi, seiring melambungnya harga cabai dan pampers. Oke. Abaikan. Maksudku adalah, semakin tambah tahun, semua barang akan semakin mahal dan kalau penghasilan kita tetap, jelas kita harus menyesuaikan gaya hidup kita dengan penghasilan. Tapi kita nggak mungkin menekan kebutuhan beras dari satu kilo ke satu ons per hari kan?! oke, jadi solusinya adalah mencari penghasilan tambahan. Mungkin menggunakan kemampuan mengetik, mendesain*dikit*.

Menulis.
            Hei, mimpi ini masih terus menyala di sini dan di sini*tunjuk dada dan kepala*. Tentu banyak sekali distraction yang muncul hari demi hari dan aku akan terus berusaha mengalahkan mereka semua dan membuat bukuku terpajang di rak best seller gramedia. *mengayunkan light saber* ada banyak genre yang ingin aku coba, cerita anak, detektif dan tentu saja romance.

Move on
            “you said move on, where do I go!?” satu bait lagu dari katy perry ini mewakili apa yang ada di kepalaku. Jujur, ini complicated sekali. Tapi akan aku coba. Lain waktu akan aku tulis tentangmu.


Baca.
            Tahun kemarin aku menargetkan 100 buku untuk dibaca, tapi GAGAL. Yeah, hanya 61 buku yang berhasil aku baca. Tapi kali ini, aku harus lebih banyak meluangkan waktu untuk baca dan bukannya stalking. Untuk tahun 2016 ini aku masih akan menargetkan 100 buku. Fiksi, Non Fiksi. Semuanya. Karena pengetahuan tidak hanya didapat dari bangku sekolah, kan?